Berita Haji

Cuaca Panas Ekstrim Landa Arab Saudi, Jemaah Haji Diingatkan untuk Sering Minum

Di tahun 2017 terjadi kasus kematian tertinggi jemaah haji indonesia, yaitu mencapai 645 kasus, salah satunya dipicu cuaca ekstrem di Arab Saudi.

Editor: Ichwan Chasani
Twitter Haj Ministry
Keterangan foto: (Ilustrasi) haji, umrah 

TRIBUNBEKASI.COM —  Para calon jemaah haji kemungkinan akan dihadapkan pada suhu yang sangat ekstrim di kisaran 42-43 derajat celcius di Arab Saudi saat pelaksanaan ibadah haji tahun ini.

Dalam kurun waktu tahun 2012 – 2019, tercatat di tahun 2017 merupakan kasus kematian tertinggi jemaah haji indonesia, yaitu mencapai 645 kasus.

Ratusan kasus kematian jemaah haji tersebut salah satunya dilatarbelakangi oleh cuaca panas yang ekstrim. 

Heat stroke merupakan kondisi yang diawali dengan heat exhausted yakni rasa sakit kepala, keringat berlebihan, kulit terlihat pucat, lembab, dan terasa dingin, nafas cepat, mual, dan nyeri otot. 

Kondisi ini dapat diatasi dengan minum air yang cukup, mengganti elektrolit yang hilang, menyemprot tubuh dengan air dan beristirahat setidaknya 30 menit.

Baca juga: Biaya Haji Tahun 2022 Alami Kenaikan, Begini Penjelasan BPKH

Baca juga: Pastikan Kesiapan Layanan Jemaah Haji, Menag Yaqut Berangkat ke Saudi

Kondisi yang lebih parah, saat orang mengalami heat stroke atau serangan panas merupakan kondisi paling berat pada tubuh akibat cuaca panas, karena tubuh tidak dapat mengontrol suhu badan.

Terjadi peningkatan suhu badan dengan cepat hingga mencapai 41 derajat celcius dalam kurun waktu 10-15 menit, dan tubuh sudah tidak dapat mengeluarkan keringat.

Heat Stroke atau serangan panas dapat memperberat kondisi orang yang sedang sakit dan menyebabkan kematian.

Untuk itu baik petugas dan jemaah haji diminta untuk dapat mengenali tanda-tanda heat stroke.

“Jangan sampai mereka tidak menyadari bahwa sudah masuk dalam tahapan heat exhausted. Mereka harus mengenali gejala heat exhausted. Seperti pusing, mual terutama pada saat aktifitas di luar ruangan,” tegas Kepala kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah, dr. Muhammad Imran pada rapat koordinasi tim PPIH Bidang Kesehatan, Kamis (26/5/2022).

Baca juga: Jefri Nichol Batal Ajak Warganet Duel Tinju Lagi, Calon Lawannya Hanya Bercanda

Baca juga: Kembali Bermusik, Duo T2 Cari Single yang Pas

Ditambahkan, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha selama pelaksanaan ibadah haji 2022, petugas kesehatan haji akan terus melakukan pendampingan dan monitoring kesehatan para jemaah terutama kelompok rentan seperti lansia dan orang dengan penyakit komorbid.

Kemenkes akan menggunakan TeleSehat, yaitu aplikasi yang memuat riwayat dan status kesehatan jemaah.

“Khusus untuk jemaah yang berisiko tinggi, tahun ini kita menggunakan TeleJemaah, untuk mengetahui status kesehatan. Petugas bisa memonitor langsung kepada jemaah, kalau mereka sakit bisa kita segera arahkan ke RS kita yang ada disana,” ujarnya saat melepas PPIH bidang kesehatan, Selasa (31/5/2022).

Kalau ada masalah kesehatan seperti detak jantung meningkat maupun tensi pada jemaah naik, bisa langsung terdeteksi oleh petugas kesehatan. Sehingga bisa segera ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved