Universitas Singaperbangsa
Dulu Sering Berantem, Kini Mahasiswi Unsika Ini Koleksi 10 Medali Muay Thai
Mahasiswi Unsika, Dilla, ubah kebiasaan berantem jadi prestasi. Kini ia koleksi 10 medali Muay Thai hingga juara di Malaysia.
Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Mohamad Yusuf
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI — Siapa sangka, kebiasaan berantem saat kecil justru menjadi pintu awal kesuksesan bagi Urmadhilla Dwi Rahmawan.
Mahasiswi Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) ini kini berdiri gagah di atas ring sebagai atlet Muay Thai berprestasi dengan koleksi 10 medali dari berbagai ajang, termasuk di kancah internasional.
Dilla, sapaan akrabnya, kini bukan lagi gadis kecil yang kerap bikin pusing orangtua karena sering berkelahi.
Ia menjelma menjadi petarung tangguh yang berhasil mengharumkan nama Indonesia lewat olahraga bela diri keras asal Thailand itu.
Baca juga: Roy Suryo Seret Lagi Isu Ijazah Jokowi, Minta Polri Buka Kembali Kasus yang Sudah Dihentikan
Baca juga: Miris! Air PDAM Tidak Mengalir, Ida Terpaksa Rogoh Kocek Rp 50 Ribu per Hari untuk Isi Ulang
Baca juga: Etanol Bikin Mesin Rusak dan BBM Boros? Ini Kata Pakar Energi ITB dan ITERA!
Perjalanan Dilla tak seperti kisah atlet pada umumnya. Ia mengaku sejak usia balita hingga sekolah kerap berkelahi. Alih-alih memarahinya, sang ayah justru mengarahkan Dilla untuk belajar silat.
“Dari SD saya udah latihan silat. Dulu emang suka berantem, jadi orangtua ngarahin ke bela diri biar energi saya tersalurkan,” cerita Dilla saat ditemui di Karawang, belum lama ini.
Sejak saat itu, Dilla aktif mengikuti berbagai kejuaraan silat dan menorehkan prestasi. Ia pernah meraih juara tiga Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang silat.
“Waktu itu harusnya masuk final, tapi karena berat badan saya kurang tiga kilo, digugurkan dan akhirnya dapat juara tiga,” kenangnya sambil tersenyum tipis.
Setelah belasan tahun di silat, Dilla akhirnya jatuh hati pada Muay Thai saat duduk di bangku SMA kelas 3. Ia merasa teknik bela diri asal Thailand ini memberinya tantangan baru.
“Kalau Muay Thai itu ada unsur kaki, siku, dan lutut juga. Jadi tekniknya lebih variatif. Karena keluarga saya semua juga punya basic bela diri, saya makin semangat latihan,” katanya.
Baru satu tahun serius menekuni Muay Thai, Dilla langsung terjun ke kompetisi profesional. Latihannya nyaris tanpa jeda.
“Libur cuma hari Minggu. Selebihnya latihan setiap hari,” ujar mahasiswi semester 3 FKIP Unsika Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi itu.
Kerja kerasnya terbayar. Dalam waktu singkat, Dilla berhasil mengoleksi lebih dari 10 medali, termasuk saat menjadi juara dalam kejuaraan Muay Thai F3 Strike di Malaysia.
“Kami dipanggil langsung oleh pihak Malaysia untuk tanding. Tahun ini saya jadi juara,” ujarnya bangga.
Tumbuh Jadi Petarung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bekasi/foto/bank/originals/Urmadhilla-Dwi-Rahmawan-mahasiswi-Unsika-usai-menjuarai-kejuaraan-Muay-Thai-F3-Strike.jpg)