Respons Pramono Anung Dikritik MUI soal Kubur Ikan Sapu-Sapu Hidup-hidup
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, merespons kritik Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait metode pembasmian ikan sapu-sapu
Penulis: Yolanda Putri Dewanti | Editor: Joseph Wesly
Ringkasan Berita:
- Pramono Anung akan menyesuaikan metode pembasmian ikan sapu-sapu usai kritik Majelis Ulama Indonesia, dengan melibatkan ahli agar sesuai etika dan kesejahteraan hewan.
- Populasi ikan sapu-sapu mendominasi hingga 60–70 persen biota air; pembersihan menghasilkan 6,5 ton dalam sehari dan dinilai penting untuk menjaga ekosistem.
- Pemprov DKI akan lakukan penanganan rutin oleh PPSU di lima wilayah; warga mendukung agar sungai tetap bersih dan tidak berdampak buruk bagi masyarakat.
Laporan wartawan wartakotalive.com, Yolanda Putri Dewanti
TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, merespons kritik Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait metode pembasmian ikan sapu-sapu yang sempat dilakukan dengan cara dikubur dalam kondisi hidup.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan akan menyesuaikan tata cara pembasmian dengan melibatkan para ahli.
Pemprov Akan Sesuaikan Metode
Langkah ini diambil agar metode yang digunakan tidak bertentangan dengan prinsip etika, termasuk aspek keagamaan dan kesejahteraan hewan.
“Mengenai saran dan kritik dari MUI, nanti saya minta yang ahli untuk menyesuaikan tata caranya,” ujar Pramono, Minggu (19/4/2026).
Populasi Ikan Sapu-sapu Dominasi Sungai
Pramono menjelaskan, pembasmian tetap diperlukan karena populasi ikan sapu-sapu sudah mendominasi perairan Jakarta.
Berdasarkan data sementara, jumlahnya mencapai lebih dari 60 persen bahkan mendekati 70 persen dari total biota air.
Dalam satu hari pembersihan di Jakarta Selatan, petugas berhasil mengangkat lebih dari 3,5 ton ikan sapu-sapu, dengan total hampir 6,5 ton.
“Kalau tidak dilakukan secara berkala, ekosistem air di Jakarta pasti akan rusak,” katanya.
Penanganan Dilakukan Secara Berkelanjutan
Ke depan, Pemprov DKI akan mengerahkan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) untuk melakukan pembersihan secara rutin.
Penangkapan dilakukan serentak di lima wilayah Jakarta guna menekan dominasi spesies invasif tersebut.
Ikan sapu-sapu diketahui dapat merusak ekosistem karena memakan telur ikan lain dan menggerogoti dinding sungai saat membuat sarang.
Warga Dukung Pembersihan
Upaya ini juga mendapat dukungan warga, yang khawatir ikan sapu-sapu dari perairan tercemar dikonsumsi masyarakat.
Seorang warga, Elzio (45), menilai pembersihan penting dilakukan secara rutin.
"Kalau bisa jangan cuma sekarang saja, tapi terus dilakukan supaya sungai tetap bersih dan tidak disalahgunakan,” ujarnya.
Baca berita TribunBekasi.com lainnya di Google News
| Penampakan Ikan Sapu-sapu Jumbo di Cideng, Panjang 30 Cm dan Berat 1 Kilo |
|
|---|
| Pemkot Jakarta Timur Tangkap 763 Kilogram Ikan Sapu-sapu di 10 Tempat Hari Ini |
|
|---|
| Izin THM Theatre Night Mart di Jalan Tuparev Dipertanyakan Aliansi Ormas Islam |
|
|---|
| Umat Diminta Hati-hati, MUI Segera Rilis Pedoman Gunakan AI untuk Urusan Agama |
|
|---|
| Ketum MUI Dukung Penetapan Roy Suryo sebagai Tersangka: Jadi Pelajaran Bagi Semua Pihak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bekasi/foto/bank/originals/Ikan-sapu-sapu2.jpg)