Berita Bisnis
SBR011 Segera Diterbitkan, Moduit Ajak Masyarakat Pahami Risiko dan Keuntungannya
SBR011 dinilai sangat menarik bagi investasi pemula yang umumnya masih menghindari terjadinya resiko dalam berinvestasi.
SBN sendiri terbagi dalam beberapa jenis, yaitu; SBN Konsvensional, SBN Syariah, SBN Fixed Rate dan SBN Floating Rate. Khusus SBN Konvensional digolongkan lagi dalam dua instrumen, yaitu; ORI dan SBR.
Perbedaaannya, bila ORI dapat ditransaksikan di pasar sekunder (bisa perjual-belikan sebelum jatuh tempo), SBR tidak ditransaksikan di pasar sekunder.
Tapi bila Anda perlu dana mendesak, tidak perlu khawatir sebab pencairannya tidak harus menunggu hingga SBR jatuh tempo.
Sebanyak 50 persen dari nilai investasi SBR dapat dicairkan (fasilitas early redemption).
Baca juga: Catatkan Investasi Rp16 Triliun, Kabupaten Bekasi di Urutan Pertama Realisasi Investasi se-Jabar
Baca juga: Terima Aliran Dana Judi Online Berkedok Investasi Bodong, Pacar dan Adik Indra Kenz Jadi Tersangka
Menariknya lagi, SBR memiliki kupon yang mengambang dengan kupon minimal (floating with floor) dan mengacu pada BI 7 Day Reverse Repo Rate.
Contohnya pada SBR10 yang diterbitkan Pemerintah pada Juli 2021 dengan kupon minimal 5,10 persen per tahun untuk tiga bulan pertama setelah penerbitan.
Penetapan kupon tersebut mengacu pada suku bunga acuan BI saat itu sebesar 3,5 persen ditambah 160 bps.
Setelah tiga bulan, bila suku bunga acuan naik ke angka 4 persen maka kupon SBR bisa menjadi 5,60 persen per tahun.
Head of Advisory & Investment Connoisseur Moduit, Manuel Adhi Purwanto mengatakan ketentuan floating with floor membuat investasi yang ditanam akan terlindungi dari kenaikan inflasi, sehingga dapat dipastikan nilai investasi tidak tergerus.
“Malah akan terus naik, terlebih mencermati tren kenaikan suku bunga acuan,” ungkap Manuel Adhi Purwanto dalam pernyataan resminya, Jumat (10/6/2022).
Baca juga: Pemkab Karawang Kembali Raih WTP Ketujuh Kalinya
Baca juga: The Minions Terhenti, Marcus Fernaldi Gideon Bersyukur bisa Masuk Semifinal
Diketahui, Bank Sentral Amerika Serikat telah menaikan suku bunga acuan sebesar 50 bps.
Kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan mencapai angka 2,75 persen di akhir tahun ini.
Kenaikan bunga The Fed berpotensi membuat Bank Indonesia juga akan menaikan suku bunga acuannya dari posisi saat ini 3,50 persen, walaupun mungkin kenaikannya tidak seagresif kenaikan suku bunga The Fed.
“Disinilah letak menariknya SBR11, karena tren kenaikan suku bunga acuan membuka peluang kupon SBR11 bakal lebih tinggi dibanding kupon ORI021 sebesar 4,90 persen dan kupon SR016 sebesar 4,95 persen yang sebelumnya diterbitkan pemerintah,” urai Manuel.
Sementara bila dibandingkan dengan suku bunga deposito yang mengalami tren menurun, akibat banjirnya likuiditas, SBN dipandang lebih menarik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bekasi/foto/bank/originals/moduit-12juni.jpg)