Berita Bekasi

Petani di Bekasi Keluhkan Solar Langka, Banyak yang Jatuh Sakit Akibat Keletihan Panen Padi Manual

Mesin pemanen padi yang berbahan bakar solar tak bisa dioperasikan sehingga mereka harus panen padi secara manual.

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Ichwan Chasani
TribunBekasi.com/Rangga Baskoro
Aksi unjuk rasa gapoktan di Kabipaten Bekasi. 

TRIBUNBEKASI.COM, TARUMAJAYA — Ratusan petani di Kabupaten Bekasi menjerit lantaran kelangkaan bahan bakar minyak jenis solar yang terjadi sejak sepekan lalu.

Akibatnya, mesin pemanen padi yang berbahan bakar solar tak bisa dioperasikan sehingga mereka harus panen padi secara manual.

"Badan pegel karena kami harus ngasih manual. Bayangin, satu petani minimal ngurus lahan 1 hektar nyabut-nyabutin padi. Sudah enggak efisien, ditambah badan sakit-sakit," keluh seorang petani bernama Nomir saat aksi unjuk rasa di SPBU 3417205, Jalan Bulevard Harapan Indah, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jumat (2/12/2022).

Bahkan, dikatakannya puluhan petani jatuh sakit lantaran keletihan memanen padi secara manual.

Padahal, padi yang siap panen harus segera dicabut agar tak gagal panen dimakan hama tikus, atau busuk tergenang banjir.

Baca juga: Lowongan Kerja Karawang: PT Sinergi Semesta Pratama Buka Lowongan Sales Enginering

Baca juga: Lowongan Kerja Bekasi: Disnaker Kabupaten Bekasi Buka Pameran Bursa Kerja Virtual 6-7 Desember

Kondisi serupa tak hanya dialami oleh petani di wilayahnya yang berada di Kecamatan Tarumajaya, namun juga di kecamatan lainnya.

"Kalau saya dari Tarumajaya, teman-teman yang lain ada yang dari Cabangbungin, Sukawangi, Sukakarya, Babelan dan Tambun Utara," katanya.

Ia menjelaskan para petani hanya bisa membeli solar bersubsidi dalam jumlah banyak ke SPBU 3417205 dikarenakan dijadikan rujukan oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sejak empat bulan lalu.

Biasanya, satu orang petani diberikan jatah 60 solar yang dibeli menggunakan surat rekomendasi dari BPP.

Sedangkan jumlah maksimal yang bisa dibeli oleh satu gabungan kelompok tani (gapoktan) berjumlah 180 liter per hari.

Baca juga: Tak Terima Tuntutan Jaksa Kurungan Penjara 7 Bulan, Ayu Thalia Sebut Anak Ahok Musibah Untuknya

Baca juga: Jelang Natal, Harga Emas Batangan Antam di Bekasi Jumat Ini Tembus Rp 1 Juta Lebih Per Gram

"Kami dapat jatah solar satu surat rekomendasi bisa beli 60 liter. Sedangkan kami dari gapoktan diperbolehkan membawa tiga surat, jadi 180 liter per hari," tuturnya.

Sementara itu, Arif Sunandar Kepala Divisi SPBU 3417205 mengatakan kelangkaan solar terjadi dikarenakan kuota solar di wilayahnya sudah melewati batas.

Pengiriman solar dihentikan sejak 26 November 2022 lalu, tanpa alasan yang jelas.

"Solar yang kuota di Kabupaten Bekasi habis, terakhir kali di kirim tanggal 26 bulan lalu. Kabarnya, saya juga pernah baca, ada revisi tentang pembatasan dikarenakan mau adanya kenaikkan BBM sampai akhir tahun," kata Arif Sunandar.

Informasi yang didapatkannya dari Pertamina pusat, suplai solar bahkan dihentikan hingga akhir tahun.

Menanggapi hal itu, Arif Sunandar mengatakan pihaknya tak bisa berbuat banyak.

"Masalah kuota di luar kuasa kami. Sampai sekarang infonya yang kami terima, kami enggak dapat solar sampai akhir Desember. Kalau pertalite hanya 50 persen dari total penjualan reguler kami. Ya saya harap pejabat di atas bisa melihat, kami sendiri sedih kalau dengar mereka cerita, karena sejak solar kosong ya pakai tenaga sendiri," ucapnya.

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved