Minggu, 10 Mei 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Wawancara Eksklusif

Bertarung di "Dapil Neraka", Presenter Choky Sitohang: Saya akan Bawa AC Supaya Lebih Sejuk

Saya tidak kecewa, jujur. Kalau sedih iya. (Pemilu) 2019 itu jadi pemicu, bantu loncatan dan ternyata sayanya masih ada keinginan untuk berpolitik.

Tayang:
Penulis: Ikhwana Mutuah Mico | Editor: Dedy
Wartakotalive.com
Nama Choky Sitohang di panggung hiburan Tanah Air melejit setelah memandu acara televisi "Take Me Out Indonesia". Modal ini rupanya membuat Choky percaya diri melebarkan sayap ke dunia politik. Hasilnya ia gagal pada pemilu legislatif (pileg) 2019 lalu. 

TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA --- Nama Choky Sitohang di panggung hiburan Tanah Air melejit setelah memandu acara televisi "Take Me Out Indonesia". Modal ini rupanya membuat Choky percaya diri melebarkan sayap ke dunia politik. Hasilnya ia gagal pada pemilu legislatif (pileg) 2019 lalu.

Saat itu, presenter kelahiran Bandung, Jawa Barat, 41 tahun yang lalu ini menjadi kader Partai Perindo. Pada pemilu 2024 mendatang, Choky "berseragam" Partai Nasional Demokrat (NasDem). Lantas apa yang mendasari Choky kembali terlibat di dunia politik?

Editor Warta Kota Irwan Kintoko berkesempatan mewawancarai Choky secara eksklusif di kantor redaksi Warta Kota kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (3/11) lalu. Berikut hasilnya:

Apa yang membuat Anda kembali ke dunia politik, apakah penasaran seperti menunggu anak laki-laki?

Enggak lah, cukup tiga (anak). (Saya) Pernah minta anak laki-laki, (namun) Tuhan kasih anak perempuan. Dan itu jawaban doa, kalau urusan kedaulatan, kita tidak bisa melawan, termasuk berpolitik. Dan berpolitik di tahun 2019 itu saya katakan sebagai permulaan. Saya berharap sudah melayani (rakyat) dari DPR setelah kerja keras delapan bulan untuk daerah pemilihan kota Bandung dan Cimahi pada saat itu. Nah hasilnya kan soal kedaulatan Tuhan, ya kami terima. Pada 2024 ini, saya telah siap. Bagi saya, menjadi praktisi sudah menyenangkan, seniman, entrepreneur, tapi Tuhan kasih talenta dan rezeki untuk berpolitik. Hati saya tergelitik oleh kebijakan publik yang dibuat "bapak-bapak kita". Saya pikir, saya harus ambil bagian supaya bisa membantu banyak orang.

BERITA VIDEO : SEMPAT GAGAL NYALEG, CHOKY SITOHANG KEMBALI MAJU LEWAT NASDEM DI PEMILU 2024

Ada ketidakpuasan dengan kepemimpinan yang ada sekarang ini?

Secara alamiah, manusia tidak pernah puas, banyak yang ingin dipenuhi, dicapai. Tapi, kalimat ini kurang pas, saya puas dan saya bersyukur banget. Hanya saja dunia politik menurut saya level pengabdian berbeda. Kalau orang tanya, "Cok kamu sudah memberikan sumbangsih belum untuk negara?" Saya jawab sudah, saya memberikan di dunia seni budaya, bayar pajak, dan membuka lapangan pekerjaan. Tapi politik hal berbeda, peran di dunia politik akan menentukan bangsa, bukan hanya sifat komunal tapi nasional.

Setelah gagal, bagaimana Anda menguatkan diri untuk terjun ke politik lagi?

Saya tidak kecewa, jujur. Kalau sedih iya. (Pemilu) 2019 itu jadi pemicu, bantu loncatan dan ternyata sayanya masih ada keinginan untuk berpolitik. Dan buat saya pribadi, keluarga sebagai filter pertama. Tuhan bisa pakai keluarga (untuk) menyampaikan isi hatinya. Tahun 2019 istri memberikan dukungan. Di 2024 mendatang, saya cerita lagi dengan keluarga dan mereka berbesar hati. Semua keputusan bersama.

Mengapa Anda berganti partai?

Banyak matriks yang terbuka. Saya merasa ada kesamaan yang kuat dengan NasDem. Saya mencari yang nilainya mirip dengan saya meskipun pada umumnya partai politik punya nilai yang sama. Tapi saya tidak punya waktu datang ke setiap rumah (partai), untuk mencelupkan kaki saya. Strateginya melihat peluang, ambil langkah iman, setelah itu jalani, ini yang harus dihadapi.

Apakah popularitas Anda bisa kembali menjadi modal untuk menarik suara rakyat, apa Anda masih perlu sosialisasi?

Secara teori ada benarnya. Tapi popularitas adalah modal dasar. Kalau dikenal karena konflik atau kontroversi belum tentu disukai. Artinya kalau punya popularitas tak boleh jemawa. Soal promosi tentu perlu. Sebelum wawancara ini, 18 bulan ke belakang saya rutin menyapa warga. Kebanyakan mereka tahunya saya pemandu acara "Take Me Out" tapi enggak tau saya "nyaleg". Supaya tahu, saya perlu promosi melalui spanduk, baliho, reklame, dan lain-lain dengan catatan logistiknya ada. Terkait modal, Nasdem itu tak berpolitik uang, anti mahar. Namun hal ini bukan berarti menghapuskan politik itu harus punya modal atau biaya. Sejauh ini dana yang keluar enggak mengganggu keluarga.

Anda sekarang maju di daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat (Jabar) 6 meliputi kota Bekasi dan Depok. Perubahan ini sesuai permintaan Anda atau ditentukan partai?

Sumber: Wartakota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved