Demo di DPR

Reza Indragiri Bongkar Kondisi Psikis Sopir Rantis Brimob yang Tabrak Ojol Affan Kurniawan

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri soroti kondisi psikis pengemudi rantis dalam insiden tewasnya driver ojol Affan Kurniawan.

Penulis: Ramadhan L Q | Editor: Mohamad Yusuf
Istimewa
TEWAS TERLINDAS -- Seorang driver ojek online (ojol) dikabarkan tewas usai terlindas kendaraan taktis polisi saat kericuhan antara demonstran dengan polisi pecah di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025) malam. 

TRIBUNBEKASI.COM, JAKARTA – Insiden tragis yang merenggut nyawa driver ojek online (ojol) Affan Kurniawan (21) usai ditabrak kendaraan taktis (rantis) Brimob di Jakarta masih menyisakan duka dan tanda tanya besar.

Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, ikut menyoroti dari sisi psikologis pengemudi rantis. Menurutnya, tekanan mental yang dialami sopir di tengah kerumunan massa bisa memicu reaksi panik hingga salah mengambil keputusan.

“Sebagai pelanggan setia ojek online, jelas ini peristiwa yang sangat menyedihkan. Begitu pula membayangkan suasana batin pengemudi rantis saat ini, pilu hati saya,” ujar Reza, Jumat (29/8/2025).

Situasi Psikologis Pengemudi Rantis

Reza menjelaskan, aparat yang mengemudikan rantis berada dalam situasi penuh tekanan. Kerumunan besar membuat pandangan terpecah, sehingga pengemudi harus membagi fokus ke banyak arah.

“Mengapa? Karena pergerakan massa dalam jumlah besar dan acak. Jadi pengemudi tidak bisa sekadar melihat lurus ke depan. Ia harus menyapu pandangan ke berbagai titik untuk menghindari tabrakan,” jelasnya.

Baca juga: Jenazah Affan Kurniawan Diberangkatkan ke TPU Karet Bivak Dikawal Iringan Massa Ojol

Baca juga: Anggota Polisi Diculik dan Disandera Massa Pendemo di Otista Jaktim, Beruntung Tidak Sampai Dianiaya

Menurutnya, detik-detik sebelum tabrakan menggambarkan situasi sulit. Dua demonstran berada sangat dekat dengan rantis, satu berjaket hitam dan satunya berjaket hijau. Gerakan keduanya berbeda arah dan kecepatan.

“Awalnya, pengemudi berhasil menghindar dari demonstran berjaket hitam dengan membelok ke kiri. Tapi saat itu juga, rantis justru menabrak demonstran berjaket hijau. Adaptasi pengemudi meleset,” katanya.

Setelah tabrakan, rantis sempat berhenti sejenak. Hal itu menurut Reza menunjukkan pengemudi masih punya kontrol, baik dari dirinya sendiri maupun pengaruh penumpang di dalam kendaraan.

Namun tak lama kemudian, kendaraan kembali melaju. “Itu bisa dilihat sebagai reaksi panik atau flight response,” tambahnya.

Antara Rasa Takut dan Salah Kalkulasi

Dalam analisisnya, Reza menilai ada dua kondisi psikis yang memengaruhi pengemudi rantis: rasa takut (fear) dan miskalkulasi terhadap gerakan massa.

“Jadi, dua kondisi psikis itu yang paling berpengaruh. Ketakutan dan kesalahan kalkulasi membuat pengemudi sulit mengantisipasi gerakan orang-orang di sekitarnya,” ujar Reza.

Dari aspek hukum, Reza menilai tingkat kesadaran pengemudi berada di level rendah. “Pada saat tabrakan, itu masuk kelalaian (negligence). Sedangkan ketika kendaraan kembali melaju, bisa masuk kategori recklessness atau tetap negligence, perlu pendalaman lebih lanjut,” terangnya.

Baca juga: Pasca Demo di DPR, Kerusuhan Meluas Sampai ke Otista Jaktim, Polisi Tembaki Gas Air Mata

Baca juga: Melayat ke Rumah Duka Driver Ojol Tewas Terlindas Mobil Taktis, Gubernur Pramono Menitikan Air Mata

Harapan Investigasi Transparan

Halaman
12
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved