Selasa, 5 Mei 2026
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera
Kota Bekasi yang Nyaman dan Sejahtera

Warga Karawang Ubah Limbah Cangkang Rajungan Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Sukinah (47) bersama orangtuanya Haji Tohar (70) Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Karawang menangkap peluang ekonomi

Tayang:
Penulis: Muhammad Azzam | Editor: Joseph Wesly
Tribunbekasi.com/Muhammad Azzam/Muhammad Azzam
LIMBAH RAJUNGAN-Sukinah (47) bersama orangtuanya Haji Tohar (70) Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Karawang menangkap peluang ekonomi dari limbah cangkang rajungan. (Muhammad Azzam/ Tribun Bekasi). 

Ringkasan Berita:
  • Warga Desa Sukajaya, Karawang memanfaatkan limbah cangkang rajungan sejak 1990-an menjadi pakan lele, pakan ayam, dan serbuk kalsium bernilai ekonomi.
  • Inovasi bersama PHE ONWJ dan Unpad mengolah limbah cair kitosan jadi pupuk organik “Banyu Subur” yang kaya mineral penting bagi tanaman.
  • Uji coba menunjukkan hasil signifikan: produksi gabah naik 33 persen dan biaya petani turun 11 persen.
 

 

Laporan Muhammad Azzam

TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG- Sukinah (47) bersama orangtuanya Haji Tohar (70) Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Karawang menangkap peluang ekonomi dari limbah cangkang rajungan.

Sejak awal dekade 1990, Haji Tohar lupa tahun persisnya, sebidang tanah itu dibiarkan menjadi pusat pengumpulan cangkang rajungan.

Haji Tohar mendapatkan cangkang rajungan itu secara gratis dari sentra-sentra pengolah daging rajungan di Desa Sukajaya.

Proses Pengolahan Tradisional

Di bawah teriknya matahari jam 12 siang, berbekal sekop di kedua tangan, Sukinah mengaduk tumpukan cangkang rajungan yang telah menggunung setinggi lutut orang dewasa.

Setiap ayunan sekop melepaskan aroma tak ramah ke udara, kombinasi bau amis laut yang pekat bercampur sengatan amonia yang pesing.

Setiap harinya tanpa absen, Sukinah memastikan seluruh gunungan limbah itu terpapar panas merata, benar-benar kering kerontang tanpa menyisakan satu pun sudut yang lembap.

Dulu, di satu sudut lahan, cangkang yang masih menyisakan serat daging dibiarkan membusuk secara alami di bawah sengatan matahari pesisir.

Proses ini sengaja dilakukan untuk memancing lalat tentara hitam atau black soldier fly datang, berkembang biak, dan menitipkan ribuan larva maggotnya di sana.

"Jadi jaring-jaring berisi cangkang tersebut dibentangkan tepat di atas tambak. Seiring waktu, maggot-maggot gemuk itu akan berjatuhan dengan sendirinya, menjadi pakan alami gratis bagi kawanan ikan lele di bawahnya," kata Sukinah pada Senin (4/5/2026).

Diolah Jadi Pakan dan Serbuk Kalsium

Ia menjelaskan, ada proses lainnya ialah cangkang-cangkang rajungan dijemur hingga kering mersik, lalu digiling menggunakan mesin hingga menjadi serpihan kecil.

Serbuk-serbuk kaya kalsium itu kemudian dipadatkan ke dalam karung, menanti truk-truk yang akan menjemput dan mengirimkannya ke sentra-sentra peternakan ayam di kawasan Cikampek.

"Ini jadi rantai ekonomi rajungan di Desa Sukajaya. Total penduduk lebih dari 2.000 jiwa jadi memang sangat bergantung pada hasil laut," kata dia.

Produksi Rajungan Melimpah

Berdasarkan data nelayan harian biasa meraup 5 hingga 10 kilogram rajungan setiap kali melaut.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved