Driver Ojol
Diminta Jadi Informan Polisi, Andri Driver Ojol Khawatir Dimanfaatkan Oknum
Sejumlah ojol khawatir program Ojol Kamtibmas dimanfaatkan oknum, meski niatnya untuk bantu polisi menjaga keamanan.
Penulis: Nuri Yatul Hikmah | Editor: Mohamad Yusuf
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI - Suara deru motor terdengar bersahutan di tengah padatnya lalu lintas siang itu.
Di antara jaket hijau yang lalu-lalang, Andri, seorang pengemudi ojek online berusia 30 tahun, menepikan motornya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Wajahnya tampak serius ketika berbicara soal program baru bernama Ojol Kamtibmas, inisiatif kepolisian yang mengajak pengemudi ojol menjadi mata dan telinga di jalanan.
“Kalau untuk bersinergi sih bagus, ya. Misalnya cepat kasih tahu polisi kalau ada kecelakaan atau tindak kriminal,” ujar Andri kepada Tribun, Selasa (21/10/2025). “Tapi saya juga mikir, gimana soal keselamatan kami? Ada enggak jaminan kalau nanti kami diserang atau dimanfaatkan oknum?”
Baca juga: Sorotan Sidang Kabinet, Purbaya dan Luhut Tak Tegur Sapa Bikin Publik Bertanya-tanya
Baca juga: Kisah Leo, Lansia 70 Tahun: Bertahan Hidup dengan Berjualan Koran dan Memulung
Baca juga: Malam Sunyi Geger, Bayi Mungil Ditemukan Warga Bekasi Tewas Tergantung Kresek di Portal Gang
Andri tak menampik niat baik di balik program itu. Namun, kekhawatirannya muncul karena pengalaman di lapangan yang tak selalu seindah rencana di atas kertas.
“Kadang ada yang manfaatin situasi buat cari keuntungan pribadi. Apalagi kalau ada imbalan dari polisi,” katanya lirih.
Selama hampir sepuluh tahun bergabung dalam komunitas Unit Reaksi Cepat (URC) ojol, Andri dan rekan-rekannya sudah terbiasa membantu polisi di jalan tanpa pamrih. Mereka sering turun tangan saat ada kecelakaan, membantu pengaturan lalu lintas, bahkan ikut mengantar korban ke rumah sakit.
“Sejak 2016, kami sudah bergerak sendiri. Enggak ada imbalan apa-apa. Tapi komunikasi antarojol sudah sampai Sumatera, Jawa, sampai Bali,” ujarnya bangga.
Andri berharap semangat sosial itu tetap murni, tanpa dibebani kepentingan tertentu. “Biar kami kerja saja, bantu kalau bisa bantu. Kalau enggak nolong, ya ditolong. Intinya saling jaga,” ujarnya sambil tersenyum.
Program Ojol Kamtibmas sendiri resmi diluncurkan oleh Polres Metro Jakarta Barat pada Rabu (24/9/2025) lalu. Sebanyak 21 pengemudi ojol dari 20 komunitas ditunjuk menjadi pengurus pertama.
Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Twedi Aditya Bennyahdi, mengatakan langkah ini merupakan bentuk kolaborasi untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Kami ingin bersinergi menjaga Jakarta Barat tetap aman dan nyaman,” ujar Twedi.
Menurutnya, para pengemudi ojol dipilih karena mereka berada langsung di lapangan dan sering berinteraksi dengan masyarakat. “Kalau ada gangguan kamtibmas, mereka bisa bantu memberikan informasi dengan cepat,” jelasnya.
Selain menjadi mata dan telinga aparat, Twedi juga menyebut para ojol akan berperan sebagai cooling system di tengah masyarakat. “Kalau ada potensi konflik, mereka bisa ikut menenangkan dan mencegah situasi membesar,” imbuhnya.
Meski ada kekhawatiran, sebagian ojol justru menyambut baik inisiatif tersebut. Salah satunya Soplo (48), pengemudi ojol asal Palmerah.
| Ojol dan Sopir Cek Kesehatan di SPBU Pondok Ungu, Pulang Bawa Oli Gratis dari Pertamina |
|
|---|
| Diminta Jadi ‘Mata dan Telinga’ Polisi, Ini Reaksi Driver Ojol di Jakarta |
|
|---|
| Pasukan Ojol akan Demo di Istana dan DPR, Usung 7 Tuntutan dan Bakal Matikan Aplikasi |
|
|---|
| Aplikasi Ojol Buatan Negara, Benarkah Lebih Menguntungkan Driver Dibanding Aplikasi Swasta? |
|
|---|
| Doni Driver Ojol Mengaku Dapat Ancaman hingga Anak Di-bully seusai Bertemu Gibran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bekasi/foto/bank/originals/Polri-gandeng-Ojol-jadi-cepu.jpg)